Mengenai Saya

Foto Saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Saya adalah laki-laki, dengan dua anak (semuanya laki-laki), satu istri (tentu ia bukan laki-laki). Sehari-hari profesi saya adalah Jawa Timur.

28 Mei 2012

Inspirasi dari Alas Kaki



Judul Buku: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books
Cetakan Pertama, Mei 2012
390 hlm.; 14 x 21 cm

Gambar sisip 1


SETIAP penulis mempunyai cara sendiri untuk membuat cerita fiksi. Salah satunya, yang saya tahu, menggunakan resep para jurnalis. Resep itu cukup manjur. Pertama, agar sebuah cerita menjadi sedemikian hidup walau itu hanyalah rekaan semata. Kedua, ini tidak kalah penting, agar semua alur cerita tertata secara runut dan dapat dengan mudah menjawab keingintahuan pembaca. Ya, resep itu lazim disebut sebagai 5W+1H.



Pada cerita fiksi macam itu, penulis setelah menentukan plot dan tokoh-tokohnya lengkap dengan masing-masing karakter, membuat pertanyaan kepada masing-masingnya. Tentu memakai kaidah 5W+1H itu. Tetapi karena semua seratus persen adalah fiksi semata, pertanyaan dan jawabannya itu hanyalah sebuah wawancara imajiner belaka. Bagaimana tidak, karena yang bertanya dan yang menjawab adalah sang penulis sendiri. Dan hal itu dilakukan agar sebuah penciptaan (cerita fiksi) menjadi lebih gampang dan cepat.



Buku Sepatu Dahlan ini pun dibangun dengan cara yang sama. Yang membedakan hanyalah wawancara yang dilakukan oleh Khrisna Pabichara terjadi secara nyata. Ia, selain mewawancarai tokoh utama, juga melakukan riset mendalam dengan menemui orang-orang (baca: saksi mata) kehidupan masa kecil Dahlan Iskan, menginap di kampungnya dan sampai-sampai menelusuri rute perjalanan Dahlan Iskan dari rumah ke sekolah yang 6 kilometer sekali jalan itu. Dengan itu, tentulah tidak berlebihan bila dikatakan novel ini lebih mempunyai 'nyawa'. Ruh-nya betul-betul terasa. Karena ditulis dengan totalitas oleh seorang Khrisna yang terbilang mumpuni.



Tetapi, “Buku ini bukan kisah nyata. Bukan biografi. Namun isinya terinspirasi oleh perjalanan hidup saya,” demikian kata Dahlan Iskan pada lounching buku ke 14 (tetapi novel pertama) dari Khrisna Pabichara ini.



Jelas sudah, bagi yang berharap menemukan gaya penulisan Dahlan Iskan di buku ini, silakan untuk bersiap kecewa. Karena buku ini ditulis oleh orang lain. Tetapi, sekali lagi, karena dikerjakan sepenuh hati oleh seorang yang mumpuni, kita akan diajak berkelana ke masa lalu Dahlan Iskan dengan alur yang mengalir, dengan setiap butir kisah dibangun lewat sentuhan sastrawi, menjadikan (bisa-bisa) pembaca akan seperti kena candu.



Bagi yang sudah pernah membaca buku Ganti Hati yang ditulis Dahlan Iskan (diterbitkan pertama oleh JPBooks, Oktober 2007), Prolog dan Epilog buku ini mungkin akan menggugah kembali ingatan Anda tentang saat-saat menjelang dan sesudah Dahlan Iskan melakukan operasi cangkok hati di sebuah Rumah Sakit di Tiongkok sana. Tetapi sekalipun buku ini diniatkan 'hanya' sebagai novel fiksi, dengan Prolog dan Epilog itu (masing-masing berjudul 18 Jam Kematian dan Mimpi Baru) sudah diolah sedemikian rupa, akan sangat sulit sekali melepaskan diri dari kenyataan bahwa bagian itu adalah merupakan kisah asli.



Jujur saya akui, saya tertarik membaca buku ini karena sebagai anak kampung dengan keadaan yang miskin, dulu saya juga pergi-pulang sekolah dengan berjalan kaki, juga bersepatu bekas yang ujungnya sudah jebol. Dengan membaca buku ini, seolah saya sedang membaca kisah saya sendiri. Tetapi kalau beranggapan buku ini hanya layak dibaca oleh orang yang berlatar belakang miskin seperti saya, tentu saja keliru. Bahwa kemiskinan itu pernah dialami, biarlah saja itu. Namun ketika sebuah keadaan yang susah itu tidak dihadapi dengan 'cara susah' tentu adalah sebuah pencerahan. Dan buku ini, nyaris setiap lembarnya adalah bicara tentang itu. Tentang sebetapa pun miskinnya, harus selalu pantang menyerah.



Dibaca sekarang, saat orang tua sibuk memilihkan sekolah lanjutan untuk anak-anaknya, buku ini memberi cerminnya. Bahwa ketika sebagian besar orang tua ingin anaknya sekolah negeri dan cenderung menjadikan pesantren sebagai alternatif terakhir disinggung pada bab pertama yang diberi judul Tanah Tebu.



“Bapak tahu, Le, tapi kamu harus tahu diri. Harus tahu kemampuan orang tua. Kalau di pesantren Takeran, biaya lebih ringan,” tegas Bapak. (hal 20)



Sekalipun dengan biaya murah begitu, dengan tidak melarang Dahlan sekolah hanya bertelanjang kaki saja begitu, hari pertama mendaftar sekolah ke Pondok Pesantren Sabilil Muttaqin ini sudah disambut tulisan yang ditempelkan didinding. Bukan sembarang tulisan. Karena tulisan itu kalau bisa meresapkannya ke dalam jiwa, akan menjadikan setiap kita lebih bermakna.



Ojo kepingin sugih, lan ojo wedi mlarat, juga sumber bening ora bakal nggolek timba. (Jangan ingin kaya, dan jangan takut miskin. Sumur bening tidak akan mencari timba.)



“Pilih ngendi, sugih tanpa iman opo mlarat ananging iman?”



Dengan tegas aku menjawab, “Sugih ananging iman, Pak.” (hal. 31)



Begitulah, dialog dibangun dengan ringan tetapi sarat makna. Juga ketika Dahlan sepulang sekolah dan masih ngos-ngosan, karena berjalan tanpa alas kaki sejauh 6 kilometer dibawah terik matahari, sekalipun Ibu karena kasihan menyilakan agar tidur sebentar, “Ndak ada waktu, Bu. Harus nyabit (mencari rumput untuk pakan ternak, pen) lagi.”



Tentang telapak kakinya yang selalu kepanasan pergi-pulang sekolah hanya nyeker begitu, impian terbesar untuk mengurangi penderitaan macam itu adalah ingin memiliki sepatu.



Setengah sadar aku bergumam, “Coba aku punya sepatu.....”



Ibu tertegun, meletakkan canting (alat untuk membatik, pen), dan menatapku sedih. “Kita boleh saja bermimpi sesuka hati, Le. Tak ada salahnya bermimpi punya sepatu, tapi jangan karena mimpi itu belum tercapai lantas kamu putus asa. Hidup ini keras, kamu harus berjuang sendiri.” (hal. 40)



Saya sependapat dengan testimoni cerpenis dan esais Damhuri Muhammad, bahwa tidak gampang menulis novel dari riwayat seorang tokoh yang sedang bertabur bintang. Pengarang bisa terjebak dalam ungkapan-ungkapan prosaik yang bergelimang puja-puji, atau terancam oleh sinisme lantaran menyingkap hal-hal tak terlihat yang boleh jadi mencemari keterpujian tokoh tersebut. Tetapi, Khrisna Pabichara telah selamat dari dua jebakan itu.



Inspirasi memang bisa muncul dari siapa saja dan benda apa saja. Bagi sebagian orang, bisa jadi sosok Dahlan Iskan adalah seorang inspirator. Yang ceplas-ceplos, yang tegas, jujur, pekerja keras dan, ini dia, selalu bersepatu kets. Bahwa sekarang ia dipandang sukses, iya. Tetapi bahwa ia mempunyai 'pengalaman' mendalam tentang masa lalunya yang miskin sampai-sampai sepatu saja hanya mampu dimilikinya saat-saat akhir SMA (Aliyah), juga iya. Dan ini, sekali lagi, juga bisa dijadikan sebuah inspirasi.



Akhirnya, sambil menunggu dua buku lanjutannya (Surat Dahlan dan Kursi Dahlan) saya mengamini kalimat terakhir dari pengantar Dahlan Iskan untuk buku ini yang ditulis pendek saja; It's a must read.*****

Pentraktir yang Ngacir

INI akan terdengar (terbaca) tidak masuk akal. Atau, meminjam istilahnya almarhum Asmuni, sebuah hil yang mustahal. Bayangkan, coba. Saya yang sudah belasan tahun bermukim di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, yang saban hari melewati beberapa restoran cepat saji (mulai McD, KFC, Hokben dan sebangsanya), tetapi belum pernah sekalipun andok disitu.

Tetapi sebuah hil (maaf, hal maksudnya) tentu bisa dicarikan alasannya kenapa bisa begitu. Dan untuk tentang yang saya bilang diatas, setidaknya ada dua macam alasan. Sebagaimana terbentuknya sebuah alasan, untuk kasus apapun, tentu bisa dibikin agar nyambung, senyambung-nyambungnya. Untuk yang macam begini, saya yang rakyat jelata, tentu bisa meniru 'kreatifitas' para pesohor negeri yang piawai betul dalam memproduksi alasan. Tetapi biarlah saja mereka. Saya hanya akan menyebut alasan kenapa saya tidak pernah 'marung' di McD, misalnya. Begini; Pertama alasan medis, kedua alasan nasionalis.

Agar terkesan berbau patriotisme, tentu saya bilang yang alasan nasionalis dulu. Untuk apa kita memakan yang produk asing (setidaknya brand asing) bila sebenarnya lidah kita lebih akrab dengan nasi pecel, lontong balap atau rawon, misalnya. Atau bukankah rendang itu sudah masuk sebagai salah satu kuliner paling mak-nyus sedunia? Atau, kadang-kadang secara tidak sadar ada yang orang yang berstandar ganda. Misalnya, pernah ia ikut demo anti Amerika. Ikut aksi turun ke jalan. Dengan suara lantang mencemooh tabiat negara adi kuasa itu. Sungguh demonstrans yang demonstratif. Dengan tampilan keren, bercelana Levi's, yang si saat jeda orasi, karena kehausan lalu mengguyur tenggorokannya degan Coca Cola, setelahnya menyulut Marlboro. Lalu saat pulang, karena lapar kemudian mampir andok di McD.

Alasan kedua; medis. Konon, segala makanan cepat saji itu kurang baik bagi kesehatan. Ia hanya akan memperlancar laju bagi yang sedang meretas jalan menuju obesitas. Dan, kegemukan itu mempunyai serombongan efek tak menyehatkan lainnya. Nah.

Tetapi jangan percaya begitu saja alasan yang saya buat itu. Karena, jujur ini, saya sadar diri sekaligus sadar kantong. Maka, ketika istri saya getun setelah andok di depot Bayuangga Probolinggo karena harus membayar lima puluh ribu rupiah untuk tiga piring nasi yang kami makan, sungguh saya bisa memakluminya. Uang segitu bagi kami, tentu bisa untuk makan sekeluarga dua hari penuh dengan sayur lodeh tewel lengkap dengan iwak peyek.

Kenapa saya menulis ini tentu ada sebabnya. Begini, kemarin malam, seorang teman yang telah berbaik hati memperjuangkan tulisan-tulisan saya yang remeh temeh macam ini (yang dimuat di media tempatnya bekerja) untuk juga dihargai secara rupiah, bilang dalam pesan singkatnya, “Kapan-kapan kalau ada waktu ketemu, (sampeyan) kusuruh traktir. Makanku buanyak...”

Selain 'ancaman', itu tentu saja bisa saya maknai kalimat itu sebagai guyonan semata. Tetapi, kalau itu diniati secara betulan bagaimana? Kemana saya harus mentraktir? Andok nasi pecel di warung tetangga, atau saya traktir mi pangsit di tempat jualannya adik ipar saya? Daripada saya puyeng mempersiapkan itu semua, lebih baik saya biarkan (kalau memang terjadi kopi darat itu) berlaku hukum apa adanya. Kalau terjadi, terjadilah. Karena, bukan tidak mungkin, karena nelangsa melihat keadaan saya, justru saya nanti yang malah ditraktirnya. Hehe...

Untuk hal ditraktir saya punya pengalaman tak terlupakan. Dulu, ketika masih bujang, banyak sekali pemuda seusia saya yang merantau ke Bali. Di pulau Dewata itu kami-kami meniti karir sebagai kuli. Karena jarak Jember-Bali yang tak seberapa jauh, dua Minggu atau sebulan sekali kami pulang kampung. Kalau sudah begitu, biasaya, teman-teman di kampung suka mengajak andok di warung nasi pecel. Padahal saya alami sendiri, tidak tentu setiap pulang dari Bali itu ada uang cukup di dompet. Yang sering terjadi, justru ketika hendak balik ke Bali lagi itu, kami harus menjual barang dua-tiga ekor ayam untuk sangu naik bus.

Suatu hari, ada seorang ada teman yang baru pulang dari Bali. Saya ingat, namanya Munajat. Sungguh, ia datang di saat tepat. Tepat ada acara bersih desa di kampung yang tentu ada aneka hiburan. Mulai jaranan, sampai pagelaran wayang kulit semalan suntuk. Dan, setiap ada keramainan, tentu saja ada banyak sekali penjual makanan. Maka, kami todonglah si teman yang baru pulang dari Bali itu untuk mentraktir kami.

Saya bersama dua teman lain berhasil menghasutnya untuk mengajak kami makan di sebuah kedai rujak lontong. Jadinya kami berempat duduk di bangku panjang sambil dengan lahap menyantap rujak. Tetapi, si pentraktir, saya lihat cepat sekali makannya. Edan, rujak sepedas itu ia santap dengan lahap. Dan, tentu saja, ia selesai duluan. Selesai jauh meninggalkan kami bertiga yang makan sambil mendesis-desis kepedesan.

“Eh, teruskan saja. Aku tak beli rokok dulu,” kata Munajat sambil berdiri meninggalkan kami.

Itu tentu bisa diterima akal. Karena, mengisap rokok setelah makan pedas tentulah sangat nikmat. Dan, memang ibu penjual rujak itu tidak merangkap jabatan sebagai penjual rokok.

Kami terus saja makan. Tetapi ketika sekian lama si Munajat tidak juga muncul batang rokoknya, lama-lama kecepatan makan kami makin lama. Karena itu kami lakukan sambil menungu kemunculan si pentraktir. Sungguh, karena hanya Munajatlah yang kami curigai sedang pegang uang. Semakin lama Munajat tidak muncul, semakin lama pula kami makannya.

Merah muka saya bukan karena kepedasan semata. Itu adalah juga campuran dari kemungkinan terburuk; pentraktir ngacir. Sementara semua dompet kami hanya berisi KTP.

Kecurigaan Munajat kabur makin kuat manakala saya lihat untuk membeli rokok sebenarnya tidak perlu beranjak jauh, karena lima meter dari penjual rujak ini sudah ada penjual rokok. Pernah memang seorang teman bercerita meninggalkan KTP kepada benjual bensin eceran ketika motornya kehabisan BBM di tengah perjalanan. Tetapi, tentu amat memalukan bila untuk empat piring rujak lontong kami harus pula meninggalkan selembar kartu identitas itu.

Disaat saya tolah tolah-toleh dalam aneka praduga itu, yang sampai-sampai rujak menjadi tidak terasa enak dilidah saya, Munajat datang dengan senyum yang sungguh sedemikian menjengkelkan. “Macak'e ae mbois, ternyata semua dompetnya kempis...” ejeknya.

Asyem tenan!*****

21 Mei 2012

Sisi Lain

*) catatan: cerpen ini dimuat harian Radar Surabaya edisi Minggu, 20 Mei 2012.


(1)

 “SEMOGA  ini bukan menjadi lebaran terakhir. Semoga semua sehat, aku sehat, anak-anakmu juga sehat...,” itu pesan ibu ketika aku, suami dan kedua anakku pamit pulang selepas mengunjunginya lebaran tahun kemarin. Selalu begitu. Saban lebaran.
     Kuhitung, telah dua belas lebaran. Sejak aku tinggal tidak bersama ibu. Sejak mengikuti mas Dewo. Dua belas tahun. Dan terasa baru kemarin saja. Padahal Ika sudah besar. Seusia perkawinanku . Dan Dwika, dua tahun selisihnya dengan Ika. Mereka, anak-anakku itu, harta yang ternilai. Tentu itu, bagi siapapun ibu.
Apalagi aku bagi ibu. Karena aku hanya anak satu-satunya.
     Mas Dewo, lelaki itu yang mampu memisahkan aku dengan ibu. Duabelas tahun lalu. Setamatku dari SMA. Dan aku tahu, ibu amat terpaksa melepasku. Karena tanpa aku, ibu hanya akan berdua saja dirumah besar itu. Berdua dengan bapak. Dirumah joglo peninggalan eyangku.
     Malam itu, dua belas tahun lalu, bapak nyaris saja menamparku. Menampar anak semata wayangnya ini. Untung ada ibu. Yang rela menyerahkan dirinya untuk ditampar bapak, daripada diriku. Dan bapak malah duduk. Menangis. Lelaki itu menangis, ya menangis. Sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
     “Kamu tahu, nduk. Bapakmu terluka. Amat terluka hatinya,” kata ibu.
     Aku menangis. Bahkan ini sebagai lanjutan dari tangisku sebelum bapak menangis tadi. Tangis yang entah maknanya apa. Tapi, sambil menangis itu, sebenarnya aku sedang menunggu. Menunggu tindakan bapak selanjutnya. Meneruskan ingin menamparku, dan itu tidak akan kuhindari kalau terjadi. Atau malah menyuruhku seperti yang dikehendaki mas Dewo; aborsi.
     “Apa salah bapakmu ini, nduk, sampai-sampai harus menghadapi keadaan begini ini?!” suara bapak lirih tapi sangat jelas ada nada kecewa didalamnya.
     Aku diam. Ibu lalu juga diam. Malam juga semakin hening terasa.
     Bapak lunglai duduk di kursi. Tak punya kekuatan sepertinya. Tak terlihat lagi raut wajah merahnya saat nyaris menamparku. Aku menghambur ke dadanya. Dalam tangis yang tentu tak berguna. Tangis yang mungkin malah ditertawakan janin dalam kandunganku.
     Sungguh, betapa malunya bapak dan ibu atas kehamilanku.
Aku, satu-satunya buah hatinya, yang baru tamat SMA, sudah berbadan dua. Dan malam jahanam selepas perpisahan sekolah adalah awalnya. Dan Dewo, sahabatku, pelakunya.
     Malam yang diam terluka dia. Tapi mau bagaimana, malam terasa berhenti. Seperti langkah asa ibu-bapak yang laksana membentur tembok buntu.
     “Nak, bagaimanapun engkau adalah calon ayah. Siap atau tidak siap, engkau harus siap,” kata bapak saat kupaksa Dewo menemui beliau.
     Dewo menunduk.
     “Bagaimana?” tanya bapak.
     “Iya, pak.”
     “Iya bagaimana?”
     “Saya akan nikahi Ida, pak.”
                                                                           
(2)

Tak terasa itu dua belas tahun lalu. Tak terasa pula, sudah tujuh tahun bapak tiada. Ibu sendiri saja sekarang. Dan aku merasa, telah gagal menjadi anak yang baik untuk kesekian kalinya. Seharusnya aku menemani ibu di hari-hari tuanya. Tidak malah berada jauh begini. Yang hanya sesekali saja menengoknya. Dan sering merasa tidak punya waktu untuk ibu. Walau begitu, saat lebaran atau saat liburan sekolah anak-anak aku selalu kesana. Selalu. Karena aku tahu, saat-saat itu jugalah yang ditunggu ibu.
     “Sudah, jangan terlalu memiikirkan ibu. Ibu baik-baik saja kok.”
     “Tapi ibu kan sendiri.” rengekku, saat terakhir mengunjunginya pada pertengahan tahun kemarin. Saat khaul  bapakku.
     “Nduk, berbakti kepada suami itu adalah hal utama bagi seorang istri. Dan ibu ingin kamu bisa melakukan itu sepenuh hatimu.”
     Aku merangsek ke dada ibu. Seperti bayi yang hendak menyusu. Sementara di halaman depan, mas Dewo dan anak-anakku riang memetik buah rambutan.
     Ibu tersenyum melihatnya. 
     “Melihat kamu bahagia, ibu juga bahagia, nduk. Kalau saja bapakmu masih ada, ia tentu juga senang melihatmu bahagia.”
      Aku masih betah berada di dada ibu. Agar ibu tahu aku bahagia. Sekalipun tentu ada sisi lain yang aku sembunyikan. Karena, bukankah selalu ada riak kecil dalam rumah tangga. Tapi, selama ini ia hanyalah sebagai pemanis saja. Tidak lebih dari itu.
                                                                          
(3)

     Reuni sekolah selalu saja bisa menggugah kenangan lama. Masa-masa indah. Masa remaja yang selalu ceria. Tanpa beban. Tanpa problema. Ah, lebih-lebih di sound system itu, diputar lagu jadulnya Paramitha Rusady; Nostalgia SMA kita, indah lucu banyak cerita....
     Kami berkeliling sekolah. Dalam senda gurau. Melihat kelasku dulu. Kelas mas Dewo juga. Ohya, mas Dewo itu sesekolah, tapi beda kelas denganku. Ia A aku B. Sementara Sisi C. Sisi? Ya.
     Kami sahabat. Tiga serangkai, teman-temanku menjuluki. Dewo; cakep, pinter dan humoris. Sisi; cantik, postur yang layak jadi seorang model, cerdas dan pandai bergaul. Aku? Ah, biasa saja. Rasanya tak sepinter Dewo, juga tak secantik Sisi. Mungkin karena itulah kami merasa cocok. Saling melengkapi.
     Tetapi, dalam reuni itu, setelah sekian belas tahun tak saling bertemu, dan ternyata Sisi punya karir bagus Jakarta, aku tahu, tatap mata mas Dewo kepada Sisi ada sisi lainnya. Dalam sekali. Tetapi, ah bukankah kami memang sahabatan dari dulu. Sedari SMA. Bedanya, Sisi melanjutkan kuliah, sementara aku malah menjadi nyonya Dewo yang ibu rumah tangga tulen. Yang hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur. Sungguh keadaan yang sangat ketinggalan zaman.
     Hm, aku seperti tak layak hidup di jaman ini. Aku terlalu tradisional. Terlalu seperti ibuku. Yang seumur hidupnya hanya sebagai ibu rumah tangga.
     “Sudah jaman mbah Google kok masih begitu,” seloroh Sisi.
      Kami tertawa saja. Saling pandang. Tapi ketika aku melihat mata mas Dewo dan mata Sisi bertabrakan, sekali lagi kutemukan ada sorot aneh disana. Ada sorot masa lalu. Jarak waktu sekian lama sepertinya belum juga mampu menghapus sebuah kenyataaan; mereka dulu nyaris sebagai sepasang kekasih. Yang terpaksa putus karena kehamilanku.
     “Mas, mungkin sebaiknya kita lebih sering mengunjungi ibu. Ibu sudah semakin sepuh. Sudah semakin menurun kesehatannya.”
     “Kan ada bik Jah yang nemenin,” mas Dewo menjawab sambil baca koran.
     “Iya sih. Tetapi bukankah bik Jah itu hanya orang lain, mas. Yang kita bayar untuk menemani ibu.”
     “Lalu?”
     “Kadang aku berpikir, ingin memboyong ibu ke rumah kita ini.”
     “Iya, tetapi bukankah itu selalu ditolak ibu.”
      Ya, ibu memang sangat mencintai tanah kelahirannya. Desanya. Tak pernah kerasan beliau tinggal di rumahku. Belum pernah ibu tinggal lebih dari seminggu di rumahku ini. Dan aku maklum itu. Ibu itu orang desa tulen. Yang tentu terlalu pusing hidup di Surabaya yang panas ini.
     Suara ponsel berdenting. Denting nada pesan dari ponsel mas Dewo itu. Tertinggal rupanya. Kubiarkan saja benda itu di meja. Aku tak biasa membuka ponsel mas Dewo. Aku tak ingin mencampuri urusan pekerjaannya. Kuteruskan saja membereskan meja makan bekas sarapan anak-anak.
     
     Hendak kubawa setumpuk piring kotor untuk kucuci di dapur, ketika ponsel mas Dewo berbunyi lagi. Kali ini nada panggil. Kulirik saja. Oh dari Sisi. Melirik saja, hanya itu yang kulakukan. Karena untuk mengangkatnya, aku merasa tak berhak.
     Malamnya mas Dewo pulang agak malam. Juga malam-malam berikutnya. Makin malam. Rupanya banyak lemburan. Banyak pekerjaan yang harus diselaikan.
     “Dua hari kedepan ini aku tak pulang. Keluar kota,” pamitnya.
     “Kemana?”
     “Jakarta.”
     “Ya, hati-hati,” kataku. ”Tapi, kita jadi mudik ke rumah ibu saat anak-anak libur sekolah, kan?”
     “Ya, kuusahakan.”
     “Lho, memangnya kenapa?”
     “Karena kalau dua hari ini urusan yang di Jakarta belum beres, sepertinya minggu depan aku harus ke sana lagi.”
     “Untuk?” belum pernah aku selancang ini menanyakan pekerjaan kantor mas Dewo. Tetapi, karena jadwal mudik kerumah ibu yang sudah aku rancang beberapa minggu yang lalu menjadi belum pasti lagi, ini yang menyebabkan aku berani begitu.
     “Om Wisnu ingin aku yang berangkat menangani pekerjaan ini. Sekaligus, sepertinya aku mulai dipercaya menangani urusan yang agak serius. Mungkin om punya pemikiran lain, aku tidak tahu. Dan bukankah aku bekerja ini juga untuk kebahagiaan kita. Untuk anak-anak kita.” kata mas Dewo yang memang bekerja di perusahaan milik om Wisnu, adik mertuaku.
     “Juga untuk ibu kan?”
      Mas Dewo genit mencubit daguku. ”Tentu, sayang...,” katanya lalu  mematikan lampu kamar.
                                                                      
(4)

     Liburan sekolah anak-anak semakin dekat. Pekerjaan mas Dewo semakin padat. Selalu lembur. Sering ke luar kota. Kalau ke luar kota sih sudah terbiasa sejak beberapa bulan lalu.  Menginap. Tetapi, lama-lama sebagai istri aku curiga.
     Selalu ke Jakarta. Jakarta? Untuk urusan kerja atau yang lain. Demi Sisi, misalnya. Tetapi, ”Ah,mengapa aku menjadi sentimentil begini?” aku berusaha mengibaskan kecemburuanku.
     Sampai,
     “Kamu tidak ingin menambah keluarga baru?” tanya mas Dewo tadi malam.
     “Ih, apaan sih?sahutku.
     Mas Dewo tersenyum. Senyum yang serius.
     “Dua anak lebih baik,” jawabku menirukan iklan program Keluarga Berencana.
     “Bukan anak.”
      Pasti mas Dewo ingin memaksa ibu tinggal disini, batinku.
     “Bagaimana?”
     “Ibu tak akan mau, mas,” sahutku.
     “Bukan ibu.”
     Aku sedang membayangkan mas Dewo bercanda. Bukankah ia jago juga tentang yang satu itu.
     “Lalu?”
     “Sisi.”
     “Ha?!”
      “Ia hamil. Ia ingin aku menikahinya.”   *****




19 Mei 2012

Kepancal Bis

DALAM hal kepercayaan, saya terlanjur tidak begitu dalam menaruhnya kepada seseorang yang berprofesi sebagai kondektur. Ini dilandasi oleh pengalaman empirik (waduh!); setiap kali saya naik bis dari depan mulut gang walet di kampung saya, Mlokorejo-Jember sana, bis apapun, baik dari grup Akas atau yang lainnya, selalu saja sang kondektur bilang, “Langsung Surabaya. Probolinggo tidak parkir.”

Dulu sih saya percaya saja. Dan langsung membayar ongkos sampai landing di Purabaya. Tetapi ketika kenyataannya tidak selalu begitu, dan malah lebih sering dioper di sebelum terminal Menak Koncar Lumajang, lunturlah pula kepercayaan itu. Dioper begitu, sampeyan tahu, akan tidak bisa lagi nyaman. Karena, bis yang dioperi itu, bisa jadi lebih jelek kondisinya, sekaligus lebih penuh isinya. Penumpang yang naik dari pintu belakang diminta maju ke depan. Sementara yang masuk dari pintu depan diminta bergeser ke belakang. Intinya, bis itu sudah penuh-sesak. Intinya lagi, yang tidak kebagian kursi harus terpaksa berdiri. Tetapi, “Sabar sebentar,” kondektur menenangkan. “Di terminal Lumajang banyak yang turun.”
Sekali lagi, bagi yang haqqul yaqin akan perkataan kondektur, bersiaplah untuk kecewa. Karena sesampainya di terminal Lumajang, yang turun hanya satu- dua. Malah yang naik tiga-empat.

SUATU malam saya hendak mudik ke Jember. Tetapi saya kemalaman. Karena, setahu saya, bis terakhir jurusan Jember yang via Kencong (finish Ambulu), take off dari Bungurasih jam sebelas malam. Dan ketika itu, saya baru sampai Bungurasih jam sebelas lebih sedikit. “Barusan berangkat,” kata seorang kondektur ketika saya tanya.

Saya langsung lemes. Saya mempersiapkan plan B; pulang balik ke Rungkut untuk berangkat besok pagi saja. Tetapi, karena kaki saya sudah kadung di terminal hampir tengah malam begitu, terpikirlah untuk memunculkan plan C; menginap di terminal.

“Mau kemana to, mas?” tanya seorang kondektur bis jurusan Jember via Tanggul.

“Mlokorejo,” jawab saya. Tentu saja sang kondektur tahu, tujuan saya itu hanya dilalui bis yang via 
Kencong. Bisa juga sih ikut bis yang via Tanggul dan turun di pertelon Rambipuji. Tetapi, dari Rambipuji ke selatan lewat Balung, Kasiyan menuju Mlokorejo, tengah malam begitu tentu juga bukan pilihan bijak. Ya itu tadi, kendalanya ketiadaan angkutannya.

“Begini saja,” sang kondektur memberi solusi.”Ikut saya saja. Nanti sampai Probolinggo sampeyan oper yang bis baru berangkat tadi.”

“Iya kalau nutut, kalau tidak bagaimana?” saya protes.

Sampeyan bisa ikut yang trayek Ponorogo-Ambulu,” kondektur itu optimis sekali. “Jam satu, bis itu transit di Probolinggo.”

Entah pakai susuk apa mulut kondektur itu, sehingga saya termakan ajakannya. Naik bisnya. Karena malam, antara Surabaya-Pasuruan tak ada seorang penumpang pun yang naik atau turun. Saya semakin berdoa; semoga bis ini bisa nututi bis Surabaya-Ambulu di depannya. Sehingga saya bisa oper dan tidak ketiban sial menginap di terminal Bayuangga Probolinggo yang tentu saja tak seramai Purabaya. Atau kalau sedikit apes, masih ada harapan; ikut yang dari Ponorogo.

Jam satu lebih sedikit, bis Akas yang saya tumpangi masuk terminal Bayuangga. Karena bis tidak parkir, saya langsung meloncat (tentu kaki kiri duluan) dan menuju ke seorang (lagi-lagi) kondektur bis malam jurusan Probolinggo-Surabaya yang tempat antreannya berdekatan dengan yang jurusan Probolinggo-Jember  via Kencong. “Akas yang lewat Kencong?”

“Wah, barusan berangkat, mungkin seperempat jam yang lalu,” jawaban itu membuat saya lemas. Tetapi tak lemas-lemas amat. Karena bukankan masih ada harapan cadangan; bis yang Ponorogo-Ambulu. Tetapi, “Yang dari Ponorogo juga barusan berangkat. Baru saja. Belum lima menit.” Kali ini saya benar-benar lunglai.

“Kalau bis yang lewat  Kencong, paling pagi, berangkat dari sini jam berapa, pak?”

“Jam lima.”

 Musnah sudah harapan. Plan C saya memang menginap di terminal. Tetapi asumsi saya adalah terminal Purabaya. Bukan Bayuangga.

Udara malam teerasa dingin, yang anginnya sesekali berhembus mendekatkan bau asap kenalpot itu ke hidung saya. Sudah begitu, disertai juga satu bonus, aroma pesing entah dari hasil ulah siapa yang membuat terminal yang sesekali saya dapati pelancong mancanegara singgah disitu. Mungkin menuju atau dari Bromo. Dan, bau pesing itu, bagi hidung mereka, tentu tidak hanya dibilang sebagai aroma terminal Bayuangga. Tetapi, bau terminal Indonesia.

Sekalipun tak sehidup ketika dibanding siang, tetapi tengah malam begini ada saja bis yang datang dan pergi. Para pedagang asongan yang kalau siang begitu riuhnya, kali ini sepi. Dan, sepi inilah yang juga saya khawatiri. Saya merasa, kalaulah ada khawatir, sekecil apa pun itu, adalah kekhawatiran yang berlebihan. Kalaulah ada preman terminal, saya tak yakin saya adalah sebagai sasaran. Apa coba yang patut diincar dari saya. Sandal jepit? Atau buntalan kecil tas kresek ini? Begitulah, kalau sedang mudik tidak bareng anak-istri, tampilan saya hanya bersandal jepit dan sebuah tas kresek hitam bekas wadah beli beras yang saya isi satu kaos oblong untuk ganti.

Jam setengah dua saya duduk dibangku panjang di depan depot Bayuangga. Mula-mula saya duduk biasa, lalu bersandar. Sambil tak lepas memandang bis-bis yang sesekali transit, sekalipun tidak dalam waktu lama. Menurunkan penumpang, lalu bablas lagi. Disitu, pada bis-bis itu, saya sedang menunggu keajaiban; ada bis yang lewat Kencong. Harapan yang mungkin kosong. Sekosong tatapan mata saya. Status duduk saya meningkat, saya selonjorkan kaki. Saya letakkan tas kresek hitam. Sampeyan tahu, apa yang seharusnya dilakukan kebanyakan orang di tengah malam begitu? 

Ya, jawaban sampeyan betul; tidur. Maka, demi maksud itu, saya naikkan status kresek hitam ini, dari yang tadinya hanya sebagai wadah baju ganti, saya bikin ia merangkap jabatan juga sebagai bantal. Lumayanlah, tidur tiga jam, sholat subuh di musholla itu, beli roti untuk sarapan, dan jam lima berangkat pulang, matang betul rencana itu saya susun dalam batin.

Badan capek, baru saja kepala saya taruh di bantal (eh kresek isi kaos, ding), langsung saja saya bablas. Tidur pulas itu, tentu tak melulu harus berkasur empuk di ruang sejuk. Di terminal pun, beralas bangku panjang dari beton, yang sesekali hidung ditusuk bau pesing pun, bisa.

Angler sekali saya tidur. Rasanya baru beberapa saat terlelap, telinga saya mendengar teriakan lantang dari kondektur, “Kencong, Kencong, Kencong...”

Saya langsung jenggerat, bangun. Heran saya. Belum mendengar adzan subuh, belum sarapan roti, kok sudah ada bis via Kencong yang siap berangkat. Semakin saya kucek-kucek mata, rasanya semakin terang saja dunia. Jam berapa ini?

Secepat titipan kilat saya menembakkan mata ke jam dinding di depan depot Bayuangga. Oh, sudah jam tujuh rupanya!*****

17 Mei 2012

Kekasih Asih

SATU per satu ribuan buruh pabrik itu keluar dari mulut pintu gerbang yang dijaga tiga satpam. Kalau engkau sore itu ikut berdiri didekat situ, pastilah hidungmu mendapati aroma yang sama di antara mereka. Atau aroma itu sudah sedemikian akrab dengan inderamu.  Atau bahkan engkau saat ini sedang menikmati hasil lintingan tangan-tangan mereka. Ya, mereka itu, para buruh pabrik rokok itu, yang  kalaulah kukatakan dalam sahari setiap pasang tangan itu menghasilkan tiga ribu batang rokok, engkau pasti tidak begitu saja memercayainya. Sudahlah, dalam hidup ini kadang ada hal-hal yang dianggap gila. Segila pendapatmu yang meyakini kalau engkau sedang sakit batuk, untuk sembuh engkau harus menghisap rokok merek tertentu. Gila. Sungguh gila. Bagaimana bisa seperti itu. Tetapi kegilaan tentu lebih dari itu. Karena itu baru satu. Bayangkan, dengan ekpansi yang nyaris menyentuh setiap kawasan, engkau akan dapat dengan mudah mendapati pabrik rokok itu membuka tempat produksi di --bahkan mungkin-- kotamu. Dengarlah, selain di Rungkut ini, ia ada di Yogya, Cirebon, Malang, belakangan ia sedang membangun di Probolinggo.

Bisnis rokok adalah memang bisnis gila. Segila engkau yang tahu bahwa benda itu tidak menyehatkan tetapi engkau bahkan kadang lebih memilihnya daripada sepiring nasi. Ia memberi pendapatan yang lumayan gila untuk negara, tetapi juga harus tahu, uang itu didapat dari pembeli, rakyat-rakyat miskin negeri ini. Tetapi, mana peduli.  Dan Asih pun setali tiga uang. Sebagai perempuan single parent ia tentu butuh uang. Untuk biaya sekolah anaknya, juga untuk menghidupi ibu yang ia titipi anaknya itu di desa sana. Dan, dengan tiga ribu batang rokok yang ia linting sehari, dalam seminggu ia mengantongi upah enam ratus ribu. Upah yang tentu besar bila dibanding buruh pabrik-pabrik lain. Atau bahkan yang didapat para penjaga stand mall yang berdandan aduhai itu. Begitulah, semakin pekerjaan itu menyengsarakan orang banyak, engkau akan mendapat upah lebih banyak.

Asih dengan jaket jeans biru yang menutupi seragam kaos kuning bergaris merah itu, aroma keringatnya berbaur dengam bau tembakau dengan bubuhan saos yang sering kau nikmati dalam hal  apa pun. Bila dangdut membuatmu bergoyang dalam lagu sedih sekalipun, rokok pun juga begitu. Dalam suka dan duka ia terasa nikmat kau hisap.

Sabtu sore ini Asih harus pulang. Kepulangan yang biasa sebenarnya. Karena hanya di malam Minggu begini ia bisa menemani tidur buah hatinya yang baru TK itu. Juga mengirim uang belanja untuk ibunya. Tetapi kali ini ada yang beda di dadanya. Langkahnya yang dirasakannya kadang menyentuh tanah, kadang tidak. Dalam kebimbangan itulah ia kini. Antara menuruti ibu atau menurunuti kata hati.

“Kau tidak harus memutuskannya sekarang.” kata ibu Minggu lalu.” Masih ada waktu. Dan ibu pikir, pak Jupri tak akan terburu-buru pula.”

Yang namanya cinta kadang bisa menyerupai apa saja. Batu, air atau bahkan angin. Tapi mendiang mas Satrio adalah air yang mengalir. Tenang. Sekalipun ia adalah hasil pilihan ibu, membuatnya menyadari, naluri ibu jarang keliru. Bersama Satrio pula ia melalui hari yang semengalir air. Tenang. Tapi, nyatanya, pada batas tertentu Asih harus merelakaan aliran tenang itu berhenti pada satu titik. Mas Satrio, suaminya yang sopir bus itu, meninggal karena kecelakaan bus yang mungkin kau masih ingat. Bertabrakan secara frontal pada suatu malam disebuah tikungan dengan rombongan pengantin. 13 orang meninggal kala itu. Termasuk Satrio, yang malam sebelum nahas itu datang, telah sepakat dengan Asih untuk menggenapi bulan ini saja. Setelahnya, sesuai saran istrinya itu, ia akan membuka toko kecil-kecilan di depan rumah. Ini masuk akal saja. Karena, sebagaimana sopir bus lain, Satrio pun merasa pendapatannya semakin hari makin merosot karena semakin banyaknya orang menggunakan motor untuk bepergian.



Toko itu, akan dijadikan langkah awal untuk sebuah cita-cita lanjutan. “Kalau maju, aku juga akan berhenti melinting,” kata Asih.



Kata-kata, apa pun bunyinya, kalau diucap terakhir sebelum seseorang pergi untuk selamanya, sering dibilang sebagai firasat. Tetapi ucapan Satrio itu, apakah kau bisa mencari tahu dimana letaknya bila ia didudukkan sebagai pesan terakhir. Ya, perpisahan yang mengalir saja. Semengalir air mata Asih berhari-hari setelah itu. Tetapi Ozi, tahu apa bocah mungil itu tentang kematian.



Ozi, lelaki kecil yang wajahnya tidak secuilpun meleset dari ayahnya itu, sudah TK sekarang. Dan, waktu mengalir kedepan, makin menjahui segalanya. Sekaligus makin mendekati segalanya. Dan seperti tiba-tiba, tiga tahun lebih sudah mas Satrio berpulang.



Motor matic itu berhenti disebelah Asih, disebelum pintu gerbang pabrik. Berdua mereka pulang. Ini juga mengalir, sepertinya. Pertemanan antar sesama buruh pabrik, beranjak ke jenjang persahabatan, kemudian cinta. Apa ada yang salah? Tentu tidak. Kau tahu, kepada siapa engkau mengadu, adalah kepada siapa bebanmu itu dan bebannya dalam takaran yang sama. Asih, tiga tahun single parent, dan temannya itu, kekasihnya itu, empat tahun lalu ditinggal lari pasangan hidupnya yang terjerat orang ketiga. Oh, tentu bukan bandingan yang pas. Satu cerai-meninggal, satu cerai berai. Tetapi, hidup kadang mengelinding kearah yang tidak perlu dibantah.

Kepada kekasihnya itu pula sering sekali Asih bercerita tentang segala hal. Kecuali satu; tentang pak Jupri yang telah 'nembung' lewat ibu untuk memperistrinya.

Secara usia memang jauh berbeda, tetapi jalan yang lapang sedemikian membentang bila Asih mau. Pak Jupri itu, duda enam anak itu, adalah juragan rokok rumahan. Dari yang dulunya tanpa cukai dan nyerempet-nyerempet meniru merek rokok kondang, sekarang sudah resmi. Tiga puluh orang pekerjanya. Diawasinya semua secara langsung. Kulakan bahan, mengawasi tukang lintingnya, sampai memasarkannya. Sungguh bapak tua yang luar biasa. Pada posisi itu, --sekali lagi-- bila Asih mau, tidak hanya akan menjadi seorang istri. Tetapi ia akan menjadi mandor yang bisa mengajari para buruh pak Jupri itu cara agar mampu melinting sebanyak-banyaknya secara secepatnya. Sebagai orang yang sudah belasan tahun melinting secara borongan di pabrik besar itu, bukan ujug-ujug ia mampu menggarap tiga ribu batang sehari. Ia telah menguasai kiat khusus, dan tentu ilmu itu bukan pantangan untuk juga ditularkan.

Tetapi malam itu, malam penuh setan itu, Asih merasakan percintaan dahsyat dengan kekasihnya yang lebih dari apapun sepanjang lima tahun perkawinannya dengan Satrio. Gila. Dan itu, sepertinya, tidak akan ia dapat dari seorang bapak tua bernama Jupri.

--oOo--

LIMA bulan sudah, setiap hendak pulang, dengan setia kekasihnya itu mengantarkannya ke terminal Tambak Osowilangun. Kalau boleh, sebenarnya kekasihnya itu ingin mengantarkannya langsung ke rumahnya. Tapi, nanti kapan-kapan saja, Asih selalu berkata. Dan senyum itu, lambaian tangan itu, sungguh hiasan senja yang indah. Karena, bukankah apa pun akan tampak istimewa bila dibalut cinta?

Turun dipertigaan Sukodadi, ojek lalu membawanya ke rumah. Duduk dibelakang tukang ojek itu, aneh, hatinya seperti terpental-pental layaknya roda motor yang menerjang geronjalan jalan yang aspalnya selalu mengelupas setelah musim hujan begini. Semakin mendekati rumah, semakin entah rasanya.

Padahal, segelas tes hangat telah tersaji di meja saban Sabtu malam begini. Itu, membuat dadanya hangat dan nyaman biasanya. Lebih-lebih disambut gelayut manja Ozi yang langsung minta gendong. Itu, bagi siapapun ibu, adalah sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Tetapi, “Mana Ozi?” Asih mencari-cari buah hatinya itu. Sekaligus, sebenarnya, pada saat yang sama ia mencari-cari alasan yang tepat untuk megatakan 'tidak' akan kehendak ibu tentang pak Jupri itu. Tatapi, tidak terlalu berani ia. Bukankah telah terbukti ibu sebagai yang benar ketika memilihkan untuknya si Satrio itu. Yang, kalaulah maut belum menjemput, tiada yang akan dapat memisahkannya.

“Bahagia itu,” kata ibu kala itu, “bukan hanya atas dasar kekayaan. Bukan seberapa luas tambakmu. Tidak. Ia ada disini.” ibu menunjuk hatinya.

Asih hendak menyeruput untuk kedua kali teh hangatnya itu ketika ibu bilang,” Ozi sudah tidur dikamar. Siang tadi ia seharian main layang-layang. Mungkin kecapekan, jadi jam segini sudah tidur.”

Asih membuka sedikit pintu kamar. Dan mendapati buah hatinya itu tidur pulas. Sebagai ibu ia tersenyum melihat buah hatinya terlentang lucu begitu.

“Tadi sore pak Jupri menyuruh Erni kesini. Ayahnya sedang panen bandeng, katanya. Ia mengirimi kita beberapa ekor. Itu, sudah ibu masak sayur kuning kesenanganmu.”

Dugaan Asih benar. Kalaulah ibu memang sepenuhnya menyerahkan iya dan tidaknya tentang pak Jupri itu kepadanya, tentu ibu tak seterburu itu mengatakan kabar yang menurut Asih sama sekali tidak penting itu. Ini, belum juga Asih duduk, nama pak Jupri telah ibu sebut. Sejak dulu, sejak pak Jupri masih belum usaha rokok pun, ia adalah sudah pemilik tambak terluas di Karanggeneng ini. Dan setiap panen, bukan hanya pak Jupri seorang yang selalu membagikan barang empat-lima ekor bandeng kepada para tetangga. Tetapi, cerita ibu itu, tentang bandeng dari pak Jupri yang telah dimasak sayur kuning itu, tentulah ada hal lain yang sedang ibu susupkan.


MALAM, seperti biasa kalau ia pulang, tanpa diminta pun ibu akan memijiti seluruh tubuhnya. Ibu memang bukan tukang pijat, tetapi kalau engkau mau membuktikan, sepegal apapun ototmu, bila yang memijit adalah tangan ibumu, niscaya pergi semua capekmu. Tetapi pijatan ibu malam ini, Asih rasa ada sesuatu yang bukan hal biasa. Ibu selalu memberi wawasan tentang masa depan. Masa depan Asih, juga si Ozi. “Kamu masih muda. Tidak baik terlalu lama hidup menjanda.” tangan ibu terus memijit. “Apa kamu masih belum bisa melupakan Satrio?”

Dalam-dalam Asih menatap mata ibu. Dalam diamnya ibu itu, Asih mendapati sesal yang sangat. Pasti ibu merasa bersalah bertanya begitu. Tetapi ibu terlalu pintar untuk berlama-lama dalam keadaan begitu. “Atau, kamu telah punya kekasih?” mata ibu berbinar. Sorot cahayanya menyiratkan keinginan yang melambung.

Dan, ini jugalah yang ditakutkan Asih. Berterus terang, atau terus saja menyembunyikan dari ibu perihal hubungannya dengan kekasihnya itu. Asih melemparkan senyum. Memandangi mata ibu yang di dalamnya ia mendapati pantulan wajahnya yang asing. Tahukah ibu tentang itu?

“Dari sorot matamu sekarang ibu tahu, telah ada pengganti Satrio dihatimu.” kata ibu masih sekalem biasanya.

Asih tersenyum. Tapi bukan senyum yang biasanya.

“Sejak kapan engkau menyembunyikan isi hatimu kepada ibu?” kata ibu. “Ayolah, ajaklah kekasihmu itu kesini kapan-kapan. Itu akan lebih baik, Asih. Agar ia tahu siapa kita. Agar mengenal keadaan kita apa adanya. Tanpa ada yang kita tutupi. Juga tentang Ozi anakmu.”

Asih, entah mengapa, dadanya berdegup kencang.

“Boleh ibu tahu siapa nama kekasihmu itu?”

Ditanya begitu, Asih menyembunyikan sesuatu yang ia rasa berat sekali.. Di saat yang sama, melintas wajah kekasihnya itu dalam ingatannya. Kekasih yang telah hampir setengah tahun ini membuat hatinya tiada lagi kesepian. Yang selalu mau menampung segala keluh-kesahnya. Darinya ia mendapatkan sesuatu yang sangat bermakna. Lahir, batin. Tetapi namanya?

Ibu memang bukanlah orang yang suka menebak-nebak arti sebuah nama. Tetapi dengan menyebut nama kekasihnya itu, Asih tiada sanggup membayangkan apa yang ada dalam bayangan ibu nantinya. Bukan apa-apa, ini hanya karena kekasihnya itu, yang setengah tahun terakhir ini selalu menemani hari-harinya dalam suka dan duka, adalah juga seorang perempuan. Kekasih Asih itu bernama Dewi. *****